The ripple effect of US economic crisis


I think it is very important to keep a trail of the economic situation today. The effect is unprecedented and fairly wide spread, this definitely include my country Indonesia.
The following are news that I gather as I educate myself about the crisis. It requires time to sink in just because it doesn't directly effect me or anyone close to me. However, the level of urgency needs to be escalated so that we are not causing more issues as we make our daily educated decisions.

Mencari Pinjaman Saat Krisis Ekonomi Global

Krisis keuangan tahun 1998 terjadi di kawasan Asia dan sekarang dialami negara besar Amerika Serikat. Nyaris tak terbayangkan sebelumnya kalau ekonomi Amerika akan mengalami kelesuan seperti sekarang, menyusul bangkrutnya sejumlah lembaga keuangan internasional.

Jika dulu krisis di kawasan Asia tidak menjalar ke mana-mana, hanya terjadi di Thailand, Korea, Malaysia, dan Indonesia, kini krisis keuangan yang berpusat di AS dampaknya bisa menyebar ke mana-mana, termasuk ke sejumlah negara di Asia, tak terkecuali Indonesia.

Berbagai kalangan sudah memperkirakan bahwa dampak krisis keuangan di Negeri Paman Sam ini akan menjadi krisis global. Efek dominonya akan melebar ke mana-mana. Maklum, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, banyak melakukan hubungan bisnis dan dagang dengan AS, baik di pasar keuangan maupun kegiatan ekspor-impor.

Hal ini berbeda dengan krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia tahun 1998 yang masih bisa dilokalisir dan dampaknya lebih bersifat regional. Dampak dari krisis keuangan di AS sama dengan yang pernah terjadi di Indonesia, di antaranya meningkatnya jumlah pengangguran.

Menghadapi itu, antisipasi yang seharusnya dilakukan Indonesia sekarang adalah memperkuat ekonomi domestik serta memelihara kelangsungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika APBN terganggu, kegiatan pembangunan akan terpengaruh.

Dampak krisis keuangan di AS dipastikan akan memengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia. Konsekuensi dari turunnya tingkat pertumbuhan ekonomi itu adalah terjadinya pengangguran dan peningkatan kemiskinan.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia adalah menjaga kelangsungan program pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin. Berbagai kesulitan yang akan menghadang dengan adanya krisis keuangan kali ini sudah bisa diperkirakan saat ini.

Jangan sampai pemerintah terlambat mengantisipasi dampak krisis keuangan global ini. Jangan mentang-mentang pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu berakhir tahun depan, lalu antisipasi serius hanya dilakukan sampai tahun 2009. Antisipasi yang dilakukan pemerintah seharusnya minimal untuk lima tahun ke depan.

Langkah sensitif

Bukan lagi rahasia bahwa, akibat penggelembungan ekonomi (buble economic), saat ini likuiditas keuangan menjadi permasalahan utama negara-negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Di Tanah Air, perbankan sampai harus melakukan perang suku bunga untuk bisa menarik dana dari masyarakat.

Praktik perang suku bunga tinggi ini agak mereda setelah beberapa bank dipanggil Bank Indonesia dan pemerintah menaikkan nilai penjaminan dana nasabah di perbankan nasional 20 kali lipat, dari maksimal Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar.

Untuk tahun 2008, Pemerintah Indonesia, sebagaimana diungkapkan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di sela pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF)- Bank Dunia di Washington DC, AS, pekan lalu, yakin APBN tidak akan terlalu banyak terkena dampak krisis keuangan di AS.

Meski demikian, kalau komitmen pinjaman lunak dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia tidak ditepati, bukan mustahil kelangsungan APBN 2008 juga akan terganggu meski tersisa tinggal dua setengah bulan lagi. Saat ini pemerintah sedang merampungkan pembahasan tentang Rancangan APBN 2009 dengan DPR.

Dengan adanya krisis keuangan di AS, sejumlah asumsi dalam RAPBN 2009 dibicarakan kembali oleh pemerintah dengan DPR. Pemerintah mengajukan asumsi baru tentang pertumbuhan ekonomi tahun depan, yakni dari semula 6,3 persen menjadi 5,5 persen-6,1 persen.

Paskah Suzetta menyebutkan, jika pertumbuhan ekonomi tahun 2009 di bawah 6 persen, pemerintah akan menggunakan pinjaman siaga dari Bank Dunia. Misi utama Menneg PPN/Kepala Bappenas melakukan pertemuan bilateral dengan Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya di Washington adalah untuk mendapatkan komitmen pinjaman lunak untuk menopang APBN 2009.

Hasilnya, Bank Dunia telah mengindikasikan untuk memberikan pinjaman siaga 2 miliar dollar AS kepada Indonesia. Sebenarnya kebutuhan Indonesia 5 miliar dollar AS. Sebelum bertemu dengan Bank Dunia, Paskah dan delegasi Indonesia lainnya yang datang ke Washington melakukan gerakan tutup mulut.

Misi delegasi Indonesia ke AS kali ini bisa dianggap langkah yang sensitif karena, dengan adanya krisis keuangan di AS, sumber pembiayaan APBN tidak bisa lagi hanya mengandalkan surat berharga negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah, tetapi juga harus menggunakan instrumen pinjaman bilateral dan multilateral seperti dilakukan pemerintahan sebelumnya.

Langkah seperti ini niscaya akan mengundang kritik dari berbagai kalangan di dalam negeri karena khawatir Indonesia bisa masuk lagi dalam perangkap utang (debt trap) seperti di era Orde Baru. Indonesia belum lama ini baru selesai melunasi utang ke IMF dan berakhir dengan menjalin hubungan dengan negara-negara donor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI).

Memang yang diupayakan pemerintah kali ini bukan mencari utang komersial ke IMF (biasanya digunakan untuk mendukung neraca pembayaran/BOP), tetapi menjajaki pinjaman lunak kepada lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Islam (IDB), yang akan dipakai untuk mendukung APBN.

Meski demikian, pinjaman tetap pinjaman, harus dilunasi. Bisa dimaklumi, dengan adanya krisis keuangan di AS, nafsu para investor dunia membeli SBN akan berkurang. Kalaupun ada permintaan, investor meminta suku bunga yang tinggi, hingga 15 persen per tahun.

Sebelumnya, penerbitan SBN menjadi andalan untuk membiayai APBN. Namun, dengan pasar yang lesu seperti sekarang, instrumen itu tidak bisa dijadikan satu-satunya andalan. Perlu ada langkah dan instrumen lain untuk membiayai APBN.

Dari hasil pertemuan dengan Bank Dunia, tentang sisa 3 miliar dollar AS yang diperlukan Indonesia, Bank Dunia menyanggupi untuk mengupayakan koordinasi penggalangan dana, baik dari lembaga keuangan multilateral maupun bilateral.

Dari IDB, Pemerintah Indonesia berharap lembaga keuangan ini bisa membeli Sukuk yang diterbitkan Pemerintah Indonesia senilai 1 miliar dollar AS.

Apakah rencana pemerintah mendapatkan pinjaman lunak bisa dipenuhi Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya? Kita lihat nanti.

(Tjahja Gunawan Diredja, dari Washington DC, AS)



Pemerintah Menjamin hingga Rp 2 Miliar
BI Longgarkan Aturan Agunan Kredit Jangka Pendek Perbankan

Jakarta, Kompas - Pemerintah menaikkan penjaminan dana simpanan dari Rp 100 juta menjadi maksimal Rp 2 miliar per nasabah. Ini dilakukan agar masyarakat tidak khawatir kehilangan dana simpanannya di bank meskipun krisis keuangan global cenderung memburuk dan menekan perbankan nasional.

”Dengan menaikkan penjaminan ini, maka jumlah nasabah yang dilindungi pemerintah meningkat dari 95 persen menjadi 97 persen dari total jumlah nasabah,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (13/10).

Konferensi pers itu digelar guna mengumumkan terbitnya dua peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) untuk mengantisipasi memburuknya krisis keuangan, pasar modal, dan perekonomian global.

Menurut Sri Mulyani, kedua Perpu itu ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 13 Oktober 2008 sehingga segala aturan yang ada di dalamnya berlaku mulai tanggal yang sama. Perpu pertama mengatur >w 9336mw 9736m<

Dalam Perpu pertama, pemerintah mengamandemen Pasal 11 Ayat (2) UU No 25/2005 tentang LPS, yakni menambah syarat yang memungkinkan bagi pemerintah mengubah jumlah penjaminan simpanan. Sebelumnya hanya ada tiga syarat, yakni jika terjadi penarikan dana secara besar-besaran dari perbankan, terjadi inflasi yang sangat tinggi, dan jika jumlah nasabah yang dananya dijamin tidak mencapai 90 persen dari total nasabah.

Sekarang, syaratnya ditambah dengan jika terjadi ancaman yang bisa mengganggu stabilitas sektor keuangan nasional. Dengan adanya syarat keempat, pemerintah bisa mengubah jumlah penjamina>w 9336mw 9736m<

>w 9636mw 9536mw 9636m

Bisa menenangkan

Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional Sigit Pramono mengatakan, langkah pemerintah menaikkan penjaminan LPS cukup signifikan menenangkan nasabah sehingga potensi terjadinya penarikan dana besar-besaran bisa diminimalisir.

Anggota Komisi XI DPR, Maruarar Sirait, mengatakan, seharusnya pemerintah menjamin seluruh dana deposan seperti yang dilakukan Australia. (OIN/FAJ)





Ratusan Juta Rupiah Lenyap Setika
Kamis, 16 Oktober 2008 | 00:20 WIB

Simon Saragih

Sebagai nasabah Citigold, Citibank Jakarta, Vincent Lingga, tak merasa akan terjebak kerugian Rp 450 juta. Tanggal 15 September, hari kebangkrutan Lehman Brothers, mungkin salah satu hari tergelap yang akan selalu dia kenang.

Dunia seperti gelap baginya begitu muncul berita bahwa Lehman Brothers bangkrut. Ingatannya segera tertuju ke produk investasi bernama Principal Protected Notes dengan nilai 50.000 dollar AS, yang ditandatangani pada Juni 2007.

Produk investasi ini adalah keluaran Lehman Brothers yang dipasarkan oleh Citibank. ”Saya tidak menyangka akan jadi begini. Bayangan saya, selama ini saya dan nasabah Citigold yang lain dilayani begitu baik,” kata Vincent.

”Salah satu hal yang tertancap di benak saya ketika produk itu ditawarkan adalah brand Citibank, yang melekat dengan kualitas dan profesionalisme,” kata Vincent, seraya mengatakan investasi itu ada pilihan dan risiko yang dia sadari. Dia tidak semata-mata hendak menyalahkan Citibank, tetapi paling tidak akan menjadi semacam edukasi bagi pihak lain. Istilahnya, korban-korban lain agar tidak muncul lagi terjadi masa datang.

”Namun setelah saya periksa ulang, kemudian saya agak kaget. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa produk investasi itu diperuntukkan bagi nasabah yang canggih,” kata Vincent, yang merasa tidak canggih mengkalkulasikan risiko. Kekecewaan saya, kata Vincent, keterangan itu baru diberikan setelah dana diserahkan dan perjanjian investasi sudah ditandatangani.

”Saya kira pihak kami sudah menjelaskan soal itu semua,” kata Irene Niwarlangga, relationship manager Citibank, yang melayani Vincent untuk menginvestasikan dananya ke produk Lehman Brothers itu.

Ada pihak lain yang juga jadi korban produk Lehman Brothers, namun minta namanya tidak disebutkan. Dia juga merasa tidak akan terjebak dengan produk Lehman Brothers. Masalahnya produk itu ditawarkan lewat Citibank, yang dianggap telah melayani nasabah dengan baik selama ini.

Ditta Amarhoseya, bagian Humas Citibank, yang ditugasi menjawab semua pertanyaan soal para korban Lehman Brothers sedang cuti.

Korban Lehman Brother bukan saja perorangan. PT Bank BNI Tbk juga menyatakan memiliki investasi senilai 7,8 juta dollar AS pada Lehman Brothers. Hal itu disampaikan Sekretaris Perusahaan BNI, Intan Abdams Katoppo, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/10). Namun Intan tidak menerangkan bagaimana nasib dana sebesar 7,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 75,66 miliar itu saat ini.

Gelisah

Korban-korban Lehman bukan saja di Indonesia. Chiu Hei-chun (72), warga Hongkong, menabung selama 50 tahun. Namun tabungan sebesar 520.000 dollar Hongkong itu ditabung untuk lenyap seketika karena Lehman Brothers bangkrut.

”Uang itu berharga bagi saya dan istri saya, untuk biaya perawatan kesehatan di hari tua dan biaya pemakaman kami suatu saat sehingga tidak membebani anak-anak,” Chiu.

Kini Chiu dia tidak saja kehilangan uang, tetapi istrinya tidak mau berbicara padanya. ”Saya biasa tidur empat jam sehari, namun saya tak bisa tidur sampai sekarang,” kata Chiu, dikutip Reuters, Rabu (15/10). Dia adalah salah satu dari 43.700 warga Hongkong, korban Lehman Brothers.

Awalnya, Chiu selalu menabung uangnya di dalam bentuk deposito. Nasib sialnya dimulai tiga tahun lalu. Karyawan bank tempat dia menabung membujuknya. Karyawan bank itu lebih ekstrem lagi, dengan gencar memberi jaminan bahwa produk Lehman Brothers aman.

”Saya sudah mengatakan pada karyawan bank itu bahwa saya tidak tahu apa-apa, dan saya memutuskan untuk menerima investasi itu hanya karena percaya sepenuhnya pada karyawan itu,” kata Chiu, yang berprofesi sebagai pencuci piring di sebuah restoran di Hongkong.

Sekitar 600 warga Singapura juga turut jadi korban Lehan Brothers. Sama seperti Vincent dan Chiu, mereka juga memberi produk Lehman Brothers dari bank tempat mereka menyimpan dana.

”Mereka (para karyawan bank) tidak pernah menyebutkan bahwa produk itu adalah produk Lehman Brothers. Saat ditawarkan, saya sudah mengatakan saya takut pada bank-bank AS,” kata Lin Ling, yang menanamkan dana 40.900 dollar AS di Lehman Brothers.

Saat ditawari produk itu pada Juli 2008, Lin mengatakan sudah mengetahui bahwa Lehman Brothers mulai menghadapi masalah. Namun mengatakan dia terus dikejar. Dia dan rekan-rekannya menunjukkan brosur produk investasi itu, yang sama sekali tidak menyebutkan itu produk keluaran Lehman Brothers.

”Saya tidak tahu bahwa itu adalah produk Lehman. Tak ada penjalasannya dalam bahasa China,” kata Madam Lee (60), yang menuntut bank tempat dia menandatangani investasi itu, mengembalikan simpanannya, yang sudah dialihkan ke investasi Lehman Brothers.

Di Mumbai, India, Grace Varghese (50), juga sudah kehilangan 50.000 dollar AS. ”Saya kini mengkonsumsi pil pereda tekanan darah,” kata Varghese, yang mulai berinvestasi di bursa saham Mumbai empat tahun lalu. ”Saya menangis kepada suami dan anak-anak. ”Saya rugi! Saya rugi! Saya rugi!,” kata Varghese.

0 comments

 
|  Messy World. Blogger Template By Lawnydesignz Powered by Blogger